KAJIAN ISLAM ASWAJA · NAHDLATUL ULAMA

Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja)

“Corak Kepenganutan, Penghayatan, dan Pengamalan Islam Wasathiyah (Moderat) Berlandaskan Al-Qur'an, Sunnah Rasulullah SAW, Ijma', dan Qiyas Para Ulama Salafus Shalih”

Hakikat & Pengertian Islam Aswaja

Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) merupakan corak kepenganutan, penghayatan, dan pengamalan Islam yang dianut oleh Jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) serta mayoritas mutlak umat Islam di Nusantara dan Indonesia. Aswaja bukanlah sekte baru, melainkan arus utama (*mainstream*) ajaran Islam yang senantiasa mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW dan jalan para sahabatnya (*jama'ah*).

“Adapun Ahlussunnah wal Jamaah adalah kelompok ahli tafsir, ahli hadits, dan ahli fikih. Merekalah yang berpegang teguh pada tuntunan Nabi SAW dan jalan yang dilalui oleh Khulafaur Rasyidin sesudahnya. Dan mereka adalah kelompok yang selamat (al-firqah an-najiyah).” — Hadlratussyekh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari, Kitab Ziyadah at-Ta’liqat

Pemikiran KH. Hasyim Asy'ari dalam paham keagamaan terlihat nyata dari pembelaannya terhadap cara beragama dengan sistem bermadzhab. Sikap ini kemudian dituangkan dalam mahakarya beliau Qanun Asasy li-Jam’iyyati Nahdlatil Ulama yang menjadi pijakan dasar jam'iyah NU hingga saat ini.

Tiga Pilar Pokok Rukun Keagamaan Aswaja

Nahdlatul Ulama merumuskan secara komprehensif bahwa pengamalan Islam Ahlussunnah wal Jamaah bertumpu pada 3 bidang integratif yang tidak dapat dipisahkan:

🛡️ Bidang Akidah

Mengikuti manhaj Imam Abu Hasan Al-Asy'ari dan Imam Abu Mansur Al-Maturidi. Menjaga kemurnian tauhid dari faham ekstrem antropomorfisme (tajsim) maupun rasionalisme ekstrim (mu'tazilah).

⚖️ Bidang Fikih / Syari'at

Mengikuti salah satu Mazhab Empat: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Di Indonesia dan Nusantara mayoritas mutlak bermadzhab Syafi'iyah yang menjunjung kelenturan ijtihad ulama.

🌿 Bidang Tasawuf

Mengikuti manhaj Imam Al-Ghazali dan Imam Junaid Al-Baghdadi. Memadukan kemurnian syariat dengan pembersihan hati (tazkiyatun nafs) dan keluhuran akhlakul karimah.

Empat Simpul Karakter Sikap Kemasyarakatan NU

Dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara, faham Islam Aswaja diterjemahkan oleh ulama NU menjadi empat sikap luhur jalan tengah (*wasathiyah*):

Prinsip 1 Tawassuth (Moderat)

Sikap tengah-tengah, tidak ekstrim kanan (fundamentalis/radikal) dan tidak ekstrim kiri (liberal). Mengedepankan akal sehat dan dalil syar'i secara proporsional.

Prinsip 2 Tawazun (Seimbang)

Keseimbangan antara kepentingan duniawi dan ukhrawi, antara wahyu dan akal, antara pemenuhan hak individu dan kemaslahatan jamaah.

Prinsip 3 Tasamuh (Toleran)

Sikap toleran, menghargai perbedaan pandangan khilafiyah furu'iyah di kalangan intern umat Islam, serta toleransi antar-umat beragama dalam bingkai kebangsaan.

Prinsip 4 I'tidal (Tegak Lurus)

Menjunjung tinggi keadilan, kejujuran, dan ketegasan membela kebenaran tanpa pandang bulu serta menolak segala bentuk kezaliman.

Tujuh Prinsip Aswaja Menurut KH. Ahmad Shiddiq

Tokoh pemikir kharismatik Nahdlatul Ulama, KH. Achmad Shiddiq (Jember), merumuskan 7 prinsip dasar manifestasi Aswaja dalam kehidupan:

  • 1

    Prinsip Akidah

    Menyeimbangkan penggunaan akal pikiran (dalil 'aqli) dengan nash Al-Qur'an dan Sunnah (dalil naqli) tanpa terjebak pada pengkafiran sesama muslim.

  • 2

    Prinsip Syari'ah

    Berpegang teguh pada madzhab fikih mu'tabar, menghargai metodologi ijtihad ulama salaf, serta senantiasa mencari jalan maslahat untuk ummat.

  • 3

    Prinsip Tasawuf & Akhlak

    Mencegah formalisme ritual tanpa ruhani. Menghidupkan keikhlasan hati, tawadhu', wara', serta cinta kepada Rasulullah SAW dan para auliya.

  • 4

    Prinsip Pergaulan Antar-Golongan

    Mengedepankan persaudaraan sejati: Ukhuwah Islamiyah (sesama muslim), Ukhuwah Wathaniyah (sebangsa setanah air), dan Ukhuwah Basyariyah (kemanusiaan universal).

  • 5

    Prinsip Kehidupan Bernegara

    Memandang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Pancasila sebagai bentuk final kesepakatan bangsa (mu'ahadah wathaniyyah) yang wajib dijaga keutuhannya.

  • 6

    Prinsip Kebudayaan

    Menerapkan kaidah emas: Al-Muhafazhatu 'alal Qadimish Shalih wal Akhdzu bil Jadidil Ashlah (Memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik).

  • 7

    Prinsip Dakwah Bil Hikmah

    Dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang santun (mau'izhatil hasanah), dan dialog cerdas (wajadilhum billati hiya ahsan), bukan dengan ancaman, caci maki, atau kekerasan.

Relevansi Kitab Risalah Aswaja dalam Kontra-Narasi Ekstrimisme

Di era derasnya arus disinformasi dan penyebaran paham radikal terorisme melalui ruang siber, ajaran Islam Aswaja menjadi benteng pertahanan ideologis terkuat. Nilai-nilai wasathiyah NU meluruskan pandangan sempit kelompok takfiri yang gemar membid'ahkan dan mengkafirkan tradisi umat Islam nusantara.

Dengan membumikan kembali kajian kitab-kitab turats Aswaja—seperti Risalah Ahlissunnah Wal Jamaah karya Hadlratussyekh KH. Hasyim Asy'ari—warga Nahdliyin senantiasa kokoh membela kedaulatan tanah air sekaligus melestarikan ajaran Islam yang ramah, teduh, dan penuh rahmat bagi semesta alam (*rahmatan lil 'alamin*).